Fenomena menyusutnya minat generasi muda terhadap sektor agraria menjadi perhatian serius di Indonesia. Ketersediaan tenaga kerja di bidang pertanian, khususnya untuk panen, semakin sulit ditemukan, bahkan kerap kali petani harus “inden” atau menunggu hingga 15 hari untuk mendapatkan pekerja. Kondisi ini mengancam keberlanjutan sektor pangan nasional.
Tren ini menunjukkan pergeseran preferensi pekerjaan di kalangan generasi muda yang lebih tertarik pada sektor industri, jasa, atau ekonomi digital yang dianggap lebih modern dan menjanjikan penghasilan tetap dengan lingkungan kerja yang lebih nyaman. Pekerjaan di sektor agraria, yang seringkali identik dengan fisik yang berat, paparan cuaca ekstrem, dan penghasilan tidak menentu, menjadi kurang menarik. Akibatnya, banyak lahan pertanian yang kekurangan tenaga kerja saat musim panen tiba, menyebabkan keterlambatan dan bahkan kerugian hasil panen.
Sebagai contoh konkret, di beberapa sentra produksi padi di Jawa Barat, para petani melaporkan kesulitan besar dalam mencari tenaga pemanen. Pada musim panen raya bulan April 2025 lalu, seorang petani bernama Bapak Joko di Karawang harus menunggu hingga dua minggu lebih untuk mendapatkan pekerja panen, padahal padinya sudah siap dipanen. Kondisi serupa terjadi di perkebunan sayur di Sumatera Utara, di mana pemilik lahan harus berebut pekerja panen yang jumlahnya semakin terbatas. Kelangkaan ini bukan hanya masalah lokal, tetapi gejala umum yang mengindikasikan krisis regenerasi di sektor agraria.
Fenomena ini juga diperparah dengan minimnya inovasi dan modernisasi di banyak lahan pertanian. Penggunaan teknologi yang masih terbatas membuat pekerjaan di sektor agraria tetap sangat bergantung pada tenaga manusia. Tanpa adanya investasi yang memadai dalam mekanisasi pertanian atau pengembangan model bisnis pertanian yang lebih menarik bagi generasi muda, persoalan kekurangan tenaga kerja ini diperkirakan akan semakin parah di masa mendatang.
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak. Pemerintah perlu meluncurkan program-program insentif bagi generasi muda yang tertarik pada pertanian, memberikan pelatihan teknologi pertanian modern, dan memfasilitasi akses permodalan. Institusi pendidikan juga harus berperan dalam mengubah stigma sektor agraria menjadi lebih menarik dan menjanjikan melalui kurikulum yang relevan. Jika tidak ada intervensi serius, ketahanan pangan nasional bisa terancam oleh minimnya minat generasi muda untuk terlibat dalam produksi pertanian.
