Kabupaten Jombang, sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur, kini tengah menghadapi tantangan serius akibat perubahan siklus cuaca yang tidak menentu. Fenomena Bencana Banjir Musiman telah menjadi ancaman tahunan yang merugikan sektor pertanian, terutama di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan aliran sungai besar. Luapan air yang tidak terkendali sering kali menenggelamkan ribuan hektar tanaman padi yang baru saja ditanam, menyebabkan kerugian materiil yang besar bagi para petani kecil dan mengancam stabilitas pasokan beras di tingkat daerah maupun nasional.
Menghadapi ancaman yang terus berulang ini, kesiapan infrastruktur pengaman lahan menjadi prioritas yang mendesak. Kehadiran SPI Jombang (Serikat Petani Indonesia) di tengah masyarakat tani memberikan angin segar dalam upaya advokasi dan pengawasan pembangunan infrastruktur perdesaan. Organisasi ini secara aktif menjembatani keluhan warga di tingkat akar rumput dengan instansi terkait di pemerintahan kabupaten maupun provinsi. Fokus utama mereka saat ini adalah memastikan bahwa anggaran penanggulangan bencana benar-benar dialokasikan untuk memperkuat benteng pertahanan lahan pertanian yang paling rentan terdampak arus air.
Langkah nyata yang sedang dilakukan saat ini adalah agenda untuk melakukan Pantau Perbaikan Tanggul secara berkala di titik-titik rawan jebol. Pengawasan ini sangat krusial mengingat kualitas pengerjaan tanggul sering kali menjadi penentu apakah sawah warga akan selamat atau terendam saat debit air meningkat. SPI Jombang mendorong agar pembangunan tanggul tidak hanya dilakukan secara darurat dengan menggunakan karung pasir, melainkan dengan konstruksi permanen yang lebih kokoh dan tahan terhadap gerusan arus. Partisipasi petani dalam pengawasan ini memastikan bahwa pengerjaan proyek dilakukan sesuai spesifikasi teknis dan tidak asal-asalan.
Kondisi Tanggul Sawah yang kuat merupakan jaminan bagi keberlangsungan siklus tanam masyarakat. Di banyak lokasi, kerusakan tanggul sering kali disebabkan oleh kurangnya pemeliharaan rutin dan maraknya penggalian tanah liar di sekitar bantaran sungai. Melalui edukasi yang diberikan oleh serikat petani, warga diajak untuk lebih peduli dalam menjaga integritas tanggul sebagai aset bersama. Sinergi antara pemerintah yang menyediakan anggaran dan petani yang melakukan pengawasan swadaya akan menciptakan sistem pertahanan bencana yang lebih efektif dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
