Seorang pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) merekomendasikan agar subjek agrikultur dimasukkan ke dalam rancangan pembelajaran nasional. Usulan ini muncul sebagai respons terhadap krisis regenerasi petani di Indonesia, di mana minat generasi muda terhadap sektor pertanian cenderung menurun. Dengan memperkenalkan materi pertanian sejak dini, diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman dan minat generasi muda terhadap sektor vital ini.
Bayu Dwi Apri Nugroho, seorang pengamat dari UGM, adalah sosok di balik rekomendasi tersebut. Ia mengusulkan agar materi pertanian tidak hanya diajarkan di jenjang pendidikan tinggi, tetapi juga di sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas. Menurutnya, subjek agrikultur yang terintegrasi dalam kurikulum nasional akan membantu pelajar memahami bahwa pertanian bukan hanya sekadar pekerjaan tradisional, tetapi juga bidang yang dinamis, modern, dan penuh inovasi. Hal ini krusial mengingat data menunjukkan bahwa persentase petani muda di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan dengan petani yang berusia lebih tua, mengindikasikan ancaman serius terhadap ketahanan pangan nasional di masa depan.
Selain memasukkan subjek agrikultur ke dalam kurikulum, Bayu Dwi Apri Nugroho juga menyarankan agar pemerintah pusat dan daerah turut mendukung dengan membangun fasilitas pembelajaran inovatif. Contohnya adalah pembangunan agrowisata dan agroedutechnopark. Tempat-tempat semacam ini dapat berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi siswa, di mana mereka bisa belajar langsung tentang praktik pertanian modern, teknologi pertanian, dan manajemen agribisnis. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya terbatas pada teori di kelas, tetapi juga pengalaman praktis yang menarik dan relevan.
Pemaparan ide ini disampaikan Bayu dalam sebuah diskusi panel di Kampus UGM pada 11 Januari 2024. Ia optimis bahwa melalui pengenalan dini terhadap subjek agrikultur dan teknologi terkait, Indonesia memiliki potensi besar untuk kembali menjadi eksportir pangan yang disegani. Lebih jauh lagi, inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para petani Indonesia di masa mendatang, menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan menarik bagi generasi muda. Peran aktif Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) serta Kementerian Pertanian akan sangat vital dalam mewujudkan rekomendasi ini menjadi kenyataan.
