Pestisida organik berbahan dasar urin kelinci olahan kini menjadi racikan ramah lingkungan populer yang digunakan petani di Jombang untuk membasmi hama ulat. Pemanfaatan limbah cairan dari peternakan kelinci ini menjadi solusi alami yang sangat ampuh menggantikan ketergantungan pada obat-obatan kimia sintetis yang mahal dan berpotensi merusak tanah. Urin kelinci mengandung kadar nitrogen dan zat racun alami tinggi yang sangat ditakuti oleh berbagai jenis serangga perusak tanaman.
Proses pembuatan racikan pembasmi hama alami ini dilakukan melalui tahap fermentasi sederhana dengan mencampurkan urin kelinci, rempah-rempah cair seperti serai, bawang putih, serta molase tebu. Campuran tersebut didiamkan dalam wadah tertutup selama dua minggu hingga mikroorganisme pengurai bekerja sempurna. Hasil cairan fermentasi yang diperoleh tidak hanya berfungsi sebagai racun kontak bagi hama ulat, tetapi juga berperan sebagai pupuk daun cair yang menyuburkan tanaman harian.
Penggunaan aplikasi pestisida organik ramah lingkungan ini terbukti sangat efektif menekan populasi ulat grayak yang sering merusak tanaman sayuran dan padi milik warga. Saat racikan alami ini disemprotkan ke permukaan daun, aroma tajam dan zat aktifnya akan menghentikan nafsu makan ulat dan merusak sistem pencernaannya secara perlahan. Tanpa adanya sisa racun berbahaya pada hasil panen, sayuran yang dihasilkan menjadi jauh lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi masyarakat.
Manfaat ganda dari penggunaan pembasmi hama berbahan alami ini adalah terjaganya kelestarian musuh alami hama seperti laba-laba dan kumbang pemburu di ekosistem sawah. Berbeda dengan racun kimia yang membunuh seluruh organisme, cairan organik ini secara selektif menekan hama pengganggu tanpa merusak rantai makanan alami di lingkungan pertanian. Struktur tanah pun tetap gembur dan cacing tanah dapat berkembang biak dengan sangat subur.
Pelatihan pembuatan pestisida organik cair ini terus disosialisasikan kepada seluruh kelompok tani di kawasan Jombang. Pihak dinas pertanian memberikan bimbingan teknis agar petani dapat memproduksi obat pembasmi hama mandiri dengan memanfaatkan limbah peternakan sekitar. Melalui penerapan sistem pertanian organik yang berkesinambungan, biaya produksi pertanian dapat ditekan secara drastis serta kualitas lingkungan hidup dapat senantiasa terjaga dengan baik.
